Karomah mbah Wahab

Ini adalah sepenggal kisah nyata shohibku Misbah elchoir dari desa Krembung Porong Sidoarjo,sewaktu dia masih nyantri di Ponpes Bahrul ‘ulum Tambak beras Jombang.Berikut adalah penuturan Beliau Misbah elchoir.

Sewaktu aku mondok dan nyantri di pondok pesantren Bahrul Ulum Tambak beras Jombang, pernah aku mau pindah kamar atau komplek, di Tambakberas komplek-komplek di bagi menurut asal daerahnya masing-masing, misalnya anak dari Jawa barat meliputi wilayah Jakarta,Cirebon ada di komplek Sunan kudus kamar 3 dan 4, Indramayu ada di komplek Sunan Bonang, Anak Malang di komplek Sunan Giri 1 dan masih banyak lagi komplek-komplek lainnya, dan kamar yang di kuasai oleh santri dari daerah-daerah tertentu, sedangkan ketentuan atau peraturan tersebut diatas bukan kebijakan dari pihak pengasuh dalam hal ini para Kiai, tapi kebijakan tersebut lahir dari para santri sendiri khususnya para santri yang senior, dan itu bukan kebijakan baku yang wajib di ta’ati, kebijakan tersebut lahir disebabkan untuk mempermudah pendataan santri dari daerah masing-masing dan yang paling penting untuk membuat santri baru menjadi kerasan di pondok karena merasa berada di daerahnya sendiri, tapi lama-kelamaan kebijakan tersebut menjadi melenceng, saling menguasai komplek sudah menjadi hukum yang wajib di taati buat para santri, ini yang menjadi permasalahanku di waktu itu.

Komplekku adalah putra Delta khusus buat anak Sidorajo, dan menurut riwayat komplek ini adalah tanah wakaf dan murni dibangun dan di biayai sendiri oleh para santri Sidoarjo sendiri,  jadinya maklum kalau komplek putra Delta ini di khususkan buat santri asal Sidoarjo.

Sedang aku sendiri lebih akrab dengan santri-santri asal Pasuruan daripada dengan santri asal Sidoarjo, jadinya aku lebih sering mengikuti kegiatan-kegiatan yg di lakukan oleh para santri dari Pasuruan, lebih banyak menghabiskan waktuku di komplek santri asal Pasuruan, pada waktu itu kompleknya santri asal pasuruan adalah Sunan kudus 5 dan 6, lama kelamaan aku ingin pindah ke komplek Sunan kudus, kumpul dengan santri-santri asal pasuruan.

Kebetulan juga ketika aku ada niat untuk pindah, ada santri di sunan kudus 5 yang mau boyong, aku lansung lapor ke ketua kamar Sunan Kudus 5, mengutarakan maksud untuk pindah ke kamarnya untuk mengisi kekosongan almari yang di tinggal boyong oleh santri tersebut, Bedeng sebutannya, santri senior ketua kamar kudus 5 ini yang sekarang sudah menjadi dosen di IAIN Malang, aku bilang padanya

“cak aku pingin pindah nang kamar sampeyan, kan ada lemari yang kosong satu, ditinggal boyong,”

tapi jawabannya cukup mengagetkan aku, Bedeng yang biasa santai dan santun walaupun aku tidak mengenalnya secara akrab berubah menjadi sinis dan bilang kepadaku.

Mis, kamu kan anak Sidoarjo mengapa pindah kesini, maaf kamu gak boleh pindah kesini, kamar kudus 5 ini di khususkan buat anak pasuruan saja,”

aku merasa tersinggung dan malu mendengar jawabannya hatiku terasa panas sekali waktu itu

” oh kalau gitu maaf, aku gak tahu” jawabku singkat sambil ngeloyor pergi”

Sambil membawa perasaan yang marah aku pergi ke pesarehan ( makam) Mbah Wahab Hasbullah guna melaporkan peristiwa ini, aku bertekad aku harus bisa bertemu Mbah Wahab, dan melaporkan kepada beliau kalau ada santri yang sewenang-wenang yang berprilaku seperti yang punya pondok sedangkan podok ini kan punya sampeyan Mbah..

Aku masuk areal makam menjelang Magrib, dan anehnya tidak ada santri sama sekali di areal makam, biasanya jam-jam segini masih ada saja santri yang ngaji di makam, setelah sholat magrib aku mendekat kemakam beliau tepat di sebelah timur nisan kaki beliau aku duduk bersila, sudah sangat terasa suasana magis di waktu itu.

ketika aku baru membaca surat Yasin aku mendengar suara tokek yang sangat keras, bulu tengkukku sudah mulai berdiri tapi aku masih bertekad harus bisa bertemu Mbah Wahab, setelah suara tokek berlalu ganti dampar – dampar ( meja kecil yang terbuat dari kayu ) berbunyi “dar…dar…dar…“seperti di pukul-pukul, suaranya sangat jelas dan keras, aku menguatkan hatiku untuk tidak takut, angin mulai berhembus dengan kencang, aku mulai kesulitan untuk membaca Yasin, ayat demi ayat mulai tidak beraturan, muter-muter  tidak tahu jluntrungannya karena hatiku mulai takut, selanjutnya aku mendengar suara kresek-kresek yang mula-mula pelan tapi lama-kelamaan terdengar sangat cepat, aku tidak kuat untuk tidak menoleh kebelakang, setelah aku menoleh ku lihat tikar-tikar di areal makam berputar lari-lari seperti orang berkejar-kejaran, ya..Allah aku kaget setengah mati, bacaan Yasinku makin berantakan aku mulai dari awal lagi tapi tetap saja gak bisa, sejurus kemudian suara dampar dan suara tikar berbunyi bersamaan, tikar – tikar itu ku lihat berputar-putar sangat kencang di iringi suara “dar…dar…dar…” dengan tempo yg sangat tinggi, hembusan angin semakin kencang dan lampu di areal makam mulai byar pet- byar pet seakan mau padam, tanpa sadar aku membaca Yasin dengan keras dan sangat kacau sekali , ayatnya meloncat-loncat tidak karuan

Aku tidak kuat bertahan, ku sentuh makam mbah Wahab  dengan tanganku dan aku bilang kepada beliau

” Mbah saya tidak kuat, saya gak jadi pingin bertemu sampeyan, maafkan saya tidak kuat Mbah..”

setelah aku melakukan itu, hembusan angin yang tadinya sangat kencang sudah mulai reda, tikar-tikar yang tadinya berputar-putar  sangat kencang sudah mulai berjalan pelan dan akhirnya secara bersamaan suara dampar dan tikar berhenti.

pada waktu itu aku pingin lari saja tapi perasaan itu ku tahan karena aku belum selesei membaca Yasin, aku malu kepada mbah Wahab kalau aku keluar makam tapi belum rampung membaca Yasin, dan dengan di liputi perasaan takut kumulai lagi membaca Yasin dari awal sampai selesei.

Setelah selesei aku kembali ke pondok dan duduk di teras komplek Sunan Kudus sambil menenangkan hati yang masih di liputi perasaan yang tidak menentu, tidak lama kemudian Bedeng ketua kamar Kudus 5 yang sore tadi menolakku duduk mendekati ku, dengan tersenyum dan wajah yang ramah, aku heran kok sekarang jadi ramah begini, sebelum heranku hilang dia berkata kepadaku:

“mis…kalo kamu pingin pindah kekamarku silahkan gak apa-apa, mari aku bantu memindah barang-barangmu sekarang,” pintanya kepadaku.

Aku semakin heran sekali atas tawarannya itu, kok bisa berubah gini ya bathinku

” gak…aku gak jadi pindah, biar aku tetap di kamarku yang dulu aja,” jawabku, aku menolak tawarannya karena aku masih medongkol dengan sikapnya yang tadi menolakku.

“maaf atas sikapku sore tadi, silahkan pindah kekamarku sungguh aku minta maaf, ayo sekarang ku bantu kamu memindah barang-barangmu,” pintanya padaku dengan setengah memaksa.

aku tetap dengan sikapku, kutolak tawarannya.

ya Allah begini besar karomah mbah Wahab, walaupun aku gagal bertemu dg beliau tapi efek yang di timbulkan begitu nyata.

kira-kira apa yg di alami” Bedeng” setelah menolakku, kok sikapnya berubah 180 derajat terhadapku.

Ada lagi peristiwa yang lucu mengenai karomah Mbah Wahab ini.

Aku mempunyai teman asal Bangil, namanya Dheni, waktu itu dia kehabisan uang,sedang kiriman uang dari rumah belum datang, dan tanpa berpikir panjang dia pergi ke makam Mbah Wahab, setelah membaca Yasin dan Tahlil dia berkata:

Mbah kalau sampeyan benar-benar Waliyullah, tolong bantu saya, saya kehabisan uang mbah..” ucapnya

Selanjutnya dia kembali ke pondok dan ke esokan harinya pagi-pagi sekali bapaknya Dheni ini sudah berada di pondok, bapaknya berkata kepadanya:

” nak ada apa, kok tadi malam aku bermimpi bertemu Mbah Wahab, dan beliau menyuruh kepadaku untuk ke pondok menemuimu dan beliau bilang katanya kamu sekarang kehabisan uang,”

mendengar penuturan ayahnya Dheni kaget sekali,dan berteriak :

Masya Allah…Mbah Wahab benar-benar Waliyullah,” ucap Dheni dengan keras.

bapaknya hanya diam dan tidak mengerti dengan ucapan anaknya ini.

 

*) untuk beliau Mbah Wahab al fatihah…..

“Salam Mboizz selalu Kang Misbah elchoir”