Dari sebuah riwayat yaitu dari Asabath,Ibnu Asakir mengisahkan bahwa As-Sayyidi berkata,”Dia (khidir) adalah putera seorang raja,yang sangat tekun melakukan ibadah kepada Allah SWT.Ia melarikan diri dari keluarganya di istana karena tidak mau di kawinkan oleh ayahnya dengan seorang gadis yang disukai oleh semua sanak kerabatnya.Ia menolak perjodohan itu.Selama kurang lebih satu tahun ia tidak pernah menjumpai calon istrinya.Setelah sang raja mengetahui bahwa Khidir meninggalkan istana dan pergi ke suatu tempat maka diperintahkanlah seluruh utusan kerajaan untuk mencarinya.Seluruh pelosok negeri yang menjadi kekuasaannya telah didatangi namun pencarian itu hanyalah sia-sia.Khidir tak pernah bisa ditemukan lagi.

Dari sembilan sumber kaum ulama yang menjelaskan nama-namanya ada satu pendapat yang memanggilnya Khidir dengan “Khidir”.Dan tentang nama ayahnya juga perselisihan ulama sampai delapan nama.

Inilah beberapa pendapat tentang Khidir :

a. Khidir adalahnama seorang anak cucu Adam yang taat beribadah kepada Allah dan di tangguhkan ajalnya (Kitab Al-Ifrad,oleh Daruqutani dan Ibnu Asakir,riwayat Ibnu Abbas).

b. Ibnu Khidir berasal dari Romawi sedangkan bapaknya keturunan bangsa Persi.(Fathul Bari juz VI hal 310,Al Bidayah wan Nihayah juz I hal 326,Ruhul ma’ani juz XV hal 319)

c. Kata Al-Alusi :aku tidak membenarkan semua sumber yang menyatakan tentang riwayat asal usul Khidir.Tetapi An-Nawawi menyebutkan bahwa Khidir adalah putera seorang raja (Fathul Bari juz VI hal 390)

Ada beberapa ulama yang menganggap Khidir adalah seorang wali atau ulama yang tinggi ilmunya dan suci kepribadiannya.Namun sebagian besar ulama mengatakan bahwa Khidir adalah seorang Nabi.

Didalam fatwa-fatwanya,Syaikh Abu Umar bin Shalah berkata,”Dia (Khidir) adalah Nabi.Teapi para ulama bertentangan pendapat tentang kerasulannya”.

Seorang Ulama ahli tafsir bernama Abu Ishaq Al-Alibi berkata,”Khidir adalah seorang Nabi,tetapi ia tidak mudah dilihat oleh sembarang orang.”

Sebagian besar ulama menafsirkan kata Rahmah di dalam ayat bawah ini adalah Nabi atau Wahyu : “Telah kami berikan rahmat kepadanya (khidir) dari sisi kami.”(Q>S Al-Kahfi : 65)

Juga ada ayat yang menegaskan tentang kenabiannya yaitu : “Dan bukanlah aku melakukannya menurut kemauanku sendiri (kata Khidir kepada Musa).”(Q.S Al-Kahfi : 82).

Maksudnya adalah Khidir dikaruniai pengetahuan oleh Allah melebihi batas kemampuan manusia biasa,bahkan di atas kemampuan Nabi Musa.Kalau Khidir bukan seorang Nabi,pantaskah Nabi Musa berguru kepadanya?

Ahli Tafsir terkenal yaitu Ibnu Katsir lebih condong menggolongkan Khidir kepada para Nabi,maka di berkata : Allah SWT berfirman : “Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba Kami,yang telah Kami berikan kepadanya rahmat di sisi Kami,dan yang Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.”(Q.S Al-Kahfi : 65).

Dan masih banyak lagi ayat-ayat Qur’an yang menjelaskan makna kata Rahmat adalah Nabi.Seperti pada surat Huud : 28 atau Surat Maryam : 21.

Ada yang memanggilnya Khadir,Al-Khadir atau Alkhidir.Sesungguhnya nama ini hanyalah gelar bisa disebut orang dan diidentikkan dengan nama Allah yang menyerupai malaikat.Bisa diungkapkan sebagian orang,kalau dia berkenan,walaupun tidak semudah yang menginginkan pertemuan dengannya.Ibnu Asakir dan sahabat-sahabatnya meriwayatkan dari mujahid,bahwa Allah ini di gelari “Khidir” karena perubahan warna di sekitarnya menjadi kehijauhan bila dia shalat di suatu tempat.

Sahabat Nabi yang bernama Ikrimah mengisahkan riwayat yang serupa kepada Ibnu Abi Hatim.Ikrimah berkata,”Dia di gelari Khidir,karena bila ia duduk di suatu tempat maka cahaya di sekitar tempat itu berubah menjadi kehijauan.Mungkin karena pakaiannya yang berwarna hijau”.

Berkata As-Sayyidi,“Apabila Khidir berdiri di atas suatu tanah lapang yang gersang maka di mana kakinya berpijak akan ditumbuhi rumput yang masih hijau,hingga menutupi kedua telapak kakinya.Hal itu terjadi karena kebaikan pribadinya.”

Hal serupa juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Rasulullah SAW bahwa jika Khidir duduk diatas tumpukan jerami yang telah kering maka jerami tersebut akan hijau kembali.(Fathul Bari juzVI,hal 309)

Sebagian ulama beranggapan bahwa khidir masih hidup diantara kita .Imam An-Nawawi berkata ,“Pendapat ini tidak ditentang sedikitpun oleh ulama-ulama kaum sufi dan ahli-ahli ma’rifah.Mereka pernah menceritakan pengalamannya pada waktu berjumpa ,berkumpul dan berbincang-bincang dengan Khidir.Dia (Khidir) terlalu mulya untuk di caci atau di cari-cari aibnya,dan dia akan tetap dikenal walau kita berusaha menutup-nutupi berita tentang dirinya”.Didalam kitab syarah Muhadzab juz V hal 305 An-Nawawi berkata bahwa ada beberapa orang sahabatnya yang mempunyai dalil yang hidupnya Khidir.Dia berkata,“Dan sebagian besar kaum ulama berkeyakinan bahwa Khidir masih hidup sampai sekarang”.

Syaikh Ismail Haqqi berkata : “Kaum sufi dan para ulama bersepakat dengan keyakinan mereka bahwa Khidir masih hidup sampai sekarang”.

Pendapat itu diikuti oleh Ibnu Arabi,Abu Thalib Al-Makki dan Al-Hakiem,At-Turmudzi dan ulama-ulama lain seperti tokoh-tokoh sufi : Ibnu Adham,Bisyir Al-Hafi,Ma’ruf Al-Karkhi,Sari As-Saqati dan Al-Junaid serta Khalifah Umar bin Abdul Aziz RA.

Di akhir kitab Sahih Muslim bab yang menyebutkan hadits tentang Dajjal,Abu Said Al-Khdri berkata :“Pada suatu hari Rasulullah SAW bercerita panjang lebar kepada kami tentang diri Dajjal.Diantaranya beliau bersabda :

“Ia datang tetapi diharamkan untuk memasuki lingkungan Madinah.Lalu ia berhenti di sebagian daerah yang terdapat sesudah Madinah dan pada suatu hari ia di datangi oleh seorang lelaki yang baik termasuk orang yang terbaik di antara manusia saat itu kemudian ia berkata :”Saya bersaksi bahwa anda ini Dajjal yang diceritakan Nabi dalam haditsnya,”Dajjal menjawab : “Bagaimana menurut kalian kalau aku membunuh orang ini lalu aku hidupkan kembali ? Apakah kalian mengusulkan sesuatu ? “mereka menjawab,”Tiadak”!”Lalu Dajjal membunuh orang itu kemudian dihidupkan lagi,ketika orang itu akan di hidupkan kembali dia berkata,”Demi Allah,di kalangan anda sama sekali tidak kudapati hari ini orang yang paling hebat pikirannya di banding aku.“Maka Dajjal akan membunuhnya tetapi tidak kuasa lagi.” (HR.Muslim Syarah An-Nawawi juz XVIII hal 71-72)

Sedangkan para ulama yang menyebutkan kematian Khidir adalah abuĀ  Farj Ibnul Jauzi yang mengacu kepada ucapan Ibnu Taimiyah dan beberapa ayat Qur’an dan Hadits.

Seorang ulama bernama Ibrahim al-Harbi ditanya tentang hidupnya Khidir lalu ia menjawab : “Barang siapa yang berkata mustahil terhadap masalah tidak diketahuinya maka ia adalah syetan yang berwujud manusia.(Ruhul Ma’ani Juz hal 320).

“Salam Mbois”