Istilah fana’ oleh kaum sufi dipakai untuk menunjukkan keguguran sifat-sifat tercela,sedangkan baqa’ untuk menandakan ketampakan sifat-sifat terpuji.Jika pada diri salik tidak ditemukan dari salah satu kelompok sifat ini,maka pasti ditemukan sifat-sifat lain.Barang siapa kosong (fana’) dari sifat-sifat tercela,maka sifat-sifat terpuji mengada.Barang siapa dirinya dikalahkan oleh sifat-sifat tercela,maka sifat-sifat terpuji tertutupinya.

Ketahuilah,apa yg menjadi sifat seorang salik pasti mengandung tiga hal,yaitu af’al,akhlak,dan ahwal.Af’al (perbuatan-perbuatan salik) adalah tingkah laku manusia yg diperagakan dgn kemampuan ikhtiarnya.Akhlak merupakan perangainya.Akan tetapi,keberadaannya selalu berubah seiring dgn tingkat penanganannya (pengendalian menuju arah perbaikan) yg berlangsung mengikuti perjalanan pembiasaan.Sedangkan ahwal merupakan awal langkah keberadaan kondisi salik.Ahwal mengembalikan posisi salik pada tahapan awal.Kejernihannya terjadi setelah kebersihan af’al (pertumbuhan dan perbaikan).

Dengan demikian,keberadaan ahwal seperti akhlak.Karena jika salik turun ke gelenggang kehidupan untuk memerangi akhlaknya dengan hatinya,lalu meniadakan (mem-fana‘-kan) sifat-sifat jeleknya dengan kesungguhan jihadnya (semangat riyadhah),maka Allah menganugerahinya dgn perbaikan akhlak (maqam baqa’).Demikian juga jika salik menekuni penyucian af’alnya dgn (pemanfaatan) curahan (rahmat) yg diperluaskan untuknya maka Allah pasti menganugerahinya pembersihan ahwal-nya,bahkan menyempurnakannya.

Barang siapa meninggalkan af’al (tingkah laku) tercela dengan lidah syariatnya,maka dia fana’ (kosong,sirna,tiada atau gugur) dari syahwatnya.Barang siapa fana’ dari syahwatnya,maka dgn niat dan ikhlasnya dia menjadi baqa'(tetap,muncul,mengada atau eksis) dalam ibadahnya.Barang siapa uhud dalam dunianya dgn hatinya,maka dia fana’ dari kesenangannya,jika fana’ dari kesenangan dunia,maka dia baqa’ dgn kebenaran tobatnya.Barang siapa terobati akhlaknya sehingga hatinya fana’ dari sifat hasud,dendam,bakhil,rakus,marah,sombong,dan sifat-sifat yang lain yg merupakan jenis kebodohan nafsu,maka dia baqa’ dgn fatwa dan kebenaran.Barang siapa telah mampu menyaksikan gerak aliran kekuasaan-Nya dalm manifestasi pemberlakuan hukum-hukum (ketuhanan),maka dia dikatakan sebagai orang yang fana’ dari perhitungan dua kejadian (awal kejadian dan proses penggantian atau pengulangan) yg berlaku pada semua makhluk.Barang siapa fana’ dari bayangan pengaruh-pengaruh sesuatu yg berubah-ubah,maka dia baqa’ dgn sifat-sifat Al-Haqq.

Fana’-nya salik dari af’al yg tercela dan ahwal yg rendah,dan dgn ke-fana‘-an (ketiadaan) af’al dan ke-fana‘-an dirinya dari dirinya dan keseluruhan makhluk dgn ditandai ketiadaan rasa pada dirinya sendiri dan sesuatu yg diluar (makhluk),maka dia fana’ dari af’al,akhlak dan ahwal.Jika salik benar-benar fana’ dari ketiga-tiganya,maka tidak boleh ada sesuatu dari ketiga fana’ tersebut muncul (mengada).

Jika dikatakan seseorang fana’ dari dirinya dan keseluruhan makhluk,maka sebenarnya dirinya masih ada dan keseluruhan makhluk juga mash ada.Akan tetapi,orang yg mengalami demikian sudah tidak lagi memiliki pengetahuan,rasa,dan kabar yg berkaitan dgn dirinya dan semua makhluk.Hakikat dirinya masih ada,keberadaan keseluruhan makhluk pun masih ada,namun dia sudah lupa terhadap dirinya dan mereka.Dia tidak mampu merasakan keberadaan dirinya dan semua makhluk.Hal itu disebakan kesempurnaan (klimak) kesibukannya dgn sesuatu (Dzat) yg lebih tinggi dari itu semua.

Barangkali kamu pernah menyaksikan bagaimana gambaran seorang pria yg masuk ke ruangan seorang penguasa atau raja yg bengis  (atau yg sangat berwibawa).Tentu dia akan kebingungan dan kehilangan nalar.Dia tidak sadar terhadap keberadaan dirinya dan orang-orang di majelis raja.Bagaimana bentuk ruangan yg dimasukinya,apa isinya,dan bagaimana rupa dirinya,dia tidak tahu dan tidak mungkin mengabarkan perihalnya.

Dalam Al-Quran,gambaran seperti ini diperlihatkan Allah dalm kisah Nabi Yusuf AS..“Maka,ketika wanita-wanita itu melihatnya (Nabi Yusuf AS) mereka mengucapkan takbir (takjub) dan (lalu) memotong tangan mereka (sendiri)”(QS.Yusuf : 31)

Wanita-wanita bangsawan Mesir ini ketika melihat ketampanan wajah Yusuf AS saat melintas didepan mereka,mereka terkejut,malu,segan,kagum,dan amat terpesona,sehingga tidak terasa pisau yg mereka pegang mengiris tangan mereka sendiri.Mereka adalah selemah-lemahnya manusia.

“Dan,mereka mengatakan,Maha sempurna Allah,tidaklah ini manusia melainkan malaikat yang mulia.” (QS.Yusuf :31)

Ini merupakan gambaran makhluk yg lupa terhadap keberadaan (kondisi) dirinya ketika bertemu makhluk yang lain.Maka,bagaimana menurutmu jika seseorang tersingkap (mukasyafah) dari tabir yg menutupi AL-Haqq.Jika makhluk saja bisa lupa akan keberadaan rasa terhadap dirinya dan sesama makhluknya,maka apa tidak lebih menakjubkan (lupa,tak sadar,dan lalai)jika yg ditemui adalah Al-Haqq.

Dinukil dari Risalah Qusyairiyah

“Salam Mbois”