Tokoh Punakawan yang terdiri dari Semar, Nala Gareng, Petruk dan Bagong, adalah tokoh-tokoh yang selalu ditunggu-tunggu dalam setiap pagelaran wayang di Jawa. Sebenarnya dalam cerita wayang yang asli dari India tidak ada tokoh Punakawan. Punakawan hanyalah merupakan “Bahasa Halus” dan “Bahasa Komunikatif” yang diciptakan oleh para Sunan/Wali di tanah Jawa. Para tokoh Punakawan dibuat sedemikian rupa, medekati kondisi masyarakat Jawa yang beraneka ragam.Para Wali dalam penyebaran agama Islam selalu melihat kondisi masyarakat baik dari adat istiadat maupun dari budaya yang berkembang saat itu. Wayang merupakan suatu media efektif untuk penyampai misi ini.Namun, para wali memandang bahwa,cerita wayang yang diusung dari negara asalnya India ternyata banyak yang berbau Hindu,animisme dan dinamisme. Mereka juga melihat pakem wayang India tersebut kurang komunikatif.Masyarakat hanya diminta duduk diam melihat sang dalang memainkan Lakonnya.Tentu tidak semua orang mau untuk menikmati adegan demi adegan semacam ini semalam suntuk.Maka para wali menciptakan suatu tokoh yang sekiranya mampu berkomunikasi dengan penonton,lebih fleksibel, mampu menampung aspirasi penonton,lucu dan yang terpenting, dalam memainkan para tokoh punakawan ini sang dalang dapat lebih bebas dalam menyampaikan misinya karena tidak harus terlalu terikat pada pakem yang ada.

Tokoh Punakawan dimainkkan dalam sesi Goro-Goro. Jika diperhatikan secara seksama ada kemiripan dalam setiap pertunjukkan wayang antara satu lakon dengan lakon yang lain. Pada setiap permulaan permainan wayang biasanya tidak ada adegan bunuh membunuh antara tokoh-tokohnya hingga lakon goro-goro dimainkan,mengapa? Dalam falsafah orang Jawa, hal ini diartikan bahwa janganlah emosi kita diperturutkan dalam mengatasi setiap masalah.Lakukanlah semuanya dengan tenang,tanpa pertumpahan darah dan utamakan musyawarah.Cermati dulu masalah yang ada,jangan mengambl kesimpulan sebelum mengetahui masalahnya. Ketika lakon goro-goro selesai dimainkan, barulah ada adegan yang menggambarkan peperangan dan pertumpahan darah. Itu dapat diartikan, Jika musyawarah tidak dapat dilakukan ,maka ada cara lain yang dapat ditempuh dalam menegakkan kebenaran. Dalam Islampun, setiap dakwah yang dilakukan harus menggunakan tahap-tahap yang tidak berbeda dengan tahap-tahap yang ada dalam dunia pewayangan ini. Dalam mengajak pada kebenaran/mencegah kemungkaran para pendakwah awalnya harus memberi peringatan (Bi Lisani) dengan baik,jika tidak mau, beri peringatan dengan keras ,jika tidak mau,kita dapat menggunakan kemampuan maksimal kita dalam mengupayakan penegakan kebenaran (termasuk Jihad,mungkin). Nah,lakon goro-goro jelas sekali menggambarkan atau membuka semua kesalahan,dari yang samar-samar kelihatan jelas.Ini merupakan suatu hasil dari sebuah doa yang terkenal Allahuma arinal Haqa-Haqa warzuknat tibaa wa’arinal bathila-bathila warzuknat tinaba, artinya : Ya Allah tunjukilah yang benar kelihatan benar dan berilah kepadaku kekuatan untuk menjalankannya,dan tunjukillah yang salah kelihatan salah dan berilah kekuatan kepadaku untuk menghindarinya.Semua menjadi jelas mana yang benar dan yang salah.Hingga akhir dari cerita wayang,para tokohnya yang berada dijalur putih akan memenangkan pertempuran melawan kejahatan, setelah benar-benar mengetahui mana jalan yang benar dan mengerti masalahnya.

Saudara,apa makna yang terkandung dalam setiap tokoh punakawan ini.Mari kita amati satu persatu:

Semar, aslinya tokoh ini berasal dari bahasa arab Ismar.Dalam lidah jawa kata Is- biasanya dibaca Se-.Ambillah contoh Istambul menjadi Setambul. Ismar berarti paku. Tokoh ini dijadikan pengokoh (paku) terhadap semua kebenaran yang ada atau sebagai Advicer dalam mencari kebenaran terhadap segala masalah. Paku disini dapat juga difungsikan sebagai pedoman hidup,pengokoh hidup manusia.Apa pengokoh hidup manusia itu?Tidak lain adalah agama.Sehingga semar bukanlah tokoh yang harus dipuja, tapi penciptaan semar hanyalah penciptaan simbolisasi dari agama sebagai prinsip hidup setiap umat beragama.

Nala Gareng, juga diadaptasi dari kata Arab Naala Qariin. Dalam pengucapan lidah jawa pula kata Naala Qariin menjadi Nala Gareng.Kata Naala Qariin, artinya memperoleh banyak teman, ini sesuai dengan dakwah para wali sebagai juru dakwah untuk memperoleh sebanyak-banyaknya teman (umat) untuk kembali kejalan Allah SWT dengan sikap arif dan harapan yang baik.

Petruk, diadaptasi dari kata Fatruk.Kata ini merupakan kata pangkal dari sebuah wejangan Tasawuf yang berbunyi : Fat-ruk kulla maa siwallahi, yang artinya : tinggalkan semua apapun yang selain allah.Wejangan tersebut kemudian menjadi watak para wali dan mubaligh pada waktu itu.Petruk juga sering disebut Kanthong Bolong artinya kantong yang berlobang.Maknanya bahwa, setiap manusia harus menzakatkan hartanya dan menyerahkan jiwa raganya kepada Allah SWT secara ikhlas, tanpa pamrih dan ikhlas,seperti bolongnya kantong yang tanpa penghalang.

Bagong, berasal dari kata Baghaa yang berarti berontak.Yaitu berontak terhadap kebathilan dan keangkaramurkaan. Dalam versi lain kata Bagong berasal dari Baqa’ yang berarti kekal atau langgeng,artinya semua manusia hanya akan hidup kekal setelah di akhirat nantinya.Dunia hanya diibaratkan Mampir Ngombe (Sekedar Mampir untuk Minum).

Para tokoh punakawan juga berfungsi sebagai pamomong (Pengasuh) untuk tokoh wayang lainnya . Pada prinsipnya setiap manusia butuh yang namanya pamomong, mengingat lemahnya manusia,hidup tanpa orang lain.Pamomong dapat diartikan pula sebagai pelindung. Dan tiap manusia hendaknya selalu meminta lindungan kepada Allah SWT, sebagai sikap introspeksi terhadap segala kelemahan dalam dirinya. Inilah falsafah dari sikap pamomong yang digambarkan oleh para tokoh punakawan.

Alangkah disayangkan jika beberapa tokoh punakawan seperti semar dipuja-puji layaknya dewa oleh sebahagian dari penganut aliran kepercayaan. Padahal jelas sekali,semua tokoh yang ada hanyalah merupakan ciptaan para wali untuk mensimbolisasikan suatu keadaan dalam misi dakwah mereka menyebarkan Islam. Sebagai contoh Semar diceritakan sebagai seorang dewa (bathara Ismoyo kakak bathara Guru) yang turun ke bumi dengan menjelma menjadi manusia biasa untuk menjalankan sebuah misi suci.Hal ini sebenarnya cukup tepat untuk menggambarkan cara Allah SWT menurunkan Islam pada umat manusia dengan tidak menghadirkan sosok Allah langsung sebagai tuhan di muka bumi. Niscaya semua manusia akan menjadi Islam,jika allah langsung menyebarkan islam di Bumi.Lalu dimanakah letak kemerdekaan manusia,jika demikian? Manusia dibiarkan memilih semua ajaran yang ada. Mengingat, manusia diberikan kebebasan untuk menentukan nasibnya kelak di akhirat,sesuai dengan pilihannya di dunia.Maka sosok Semar sebagai dewapun harus dijelmakan sebagai sosok manusia dahulu,untuk tetap menjaga kodrat manusia sebagai makhluk yang bebas memilih. Lihatlah pula kata Semar Badranaya.Badra berarti kebahagiaan dan naya berarti kebijaksanaan.Untuk menuju kebahagiaan, yaitu dengan cara memimpin rakyat secara bijaksana dan menggiringnya untuk beribadah kepada Allah SWT.Negara akan stabil jika semar bersemayam di pertapaan Kandang Penyu.Maknanya adalah untuk mengadakan penyuwunan (penyu-) atau permohonan kehadiran Allah SWT.Jelas sekali misi dakwah yang terkandung disini,yang diceritakan dan diartikan sendiri maknanya oleh sang pembuat yaitu para wali..”salam wongmbois”